Selasa, 29 Juli 2014
Masuk Sistem?

PERANAN KERATON KASEPUHAN CIREBON DALAM PELESTARIAN TRADISI UPACARA PANJANG JIMAT DI KOTA CIREBON

oleh : ANGGI FERDIYANA


Abstrak Indonesia :

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apa yang melatarbelakangi Keraton Kasepuhan Cirebon dalam melestarikan salah satu budaya warisan leluhur yaitu Tradisi Upacara Panjang Jimat yang dimiliki oleh masyarakat Cirebon. Selain itu penelitian ini juga sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan sejarah. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode sejarah dengan tahapan sebagai berikut: heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pengumpulan data melalui penelusuran buku-buku yang ada kaitannya dengan topik masalah yang dibuat dan melalui wawancara dengan narasumber terkait. Keraton Kasepuhan Cirebon dahulu bernama Keraton Pakungwati yang didirikan oleh pangeran Cakrabuana, putra Prabu Siliwangi pada tahun 1480 M. Keraton Kasepuhan terletak di Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemah Wungkuk, Kota Cirebon. Keraton ini merupakan prototipe awal dari karakteristik pusat kota di Indonesia yang bercorak Islam. Tradisi upacara Panjang Jimat merupakan acara peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Makna dari tradisi ini sebenarnya merupakan pawai Allegorie yang menggambarkan proses kelahiran Nabi atau manusia secara universal dan seorang ibu bersalin. Tradisi upacara Panjang Jimat dilaksanakan dalam upaya pelestarian nilai-nilai budaya leluhur. Proses pelaksanaan tradisi upacara Panjang Jimat dimulai pada tanggal 01 Rabi’ul Awal hingga mencapai puncaknya yaitu tanggal 12 Rabi’ul Awal yang bertepatan dengan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sejak tanggal 01 sampai dengan 12 tersebut serangkaian kegiatan dilakukan dimuali dari persiapan, pengecekkan, hingga pelaksanaan pada malam pucak perayaan Maulid Nabi. Dampak dari tradisi upacara Panjang Jimat bagi masyarakat Cirebon dan sekitarnya yaitu adanya sinkretisme budaya antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan pra-Islam seperti Hinduisme, Animisme dan Dinamisme


Katakunci : Pelestarian Tradisi Upacara Panjang Jimat



Abstrak Inggris :

The objective of research was to know the background of Keraton Kasepuhan Cirebon in preserving the tradition of Panjang Jimat Ceremony. Besides, this research was intended to fulfil one of the requirements for a bachelor of education history. The method used in this research was a historical method, with the following stages: heuristic, critique, interpretation, and historiography. The data were collected through literary study and interview. Keraton Kasepuhan Cirebon was formerly known as Keraton Pakungwati established by Pangeran Cakrabuana, a son of Prabu Siliwangi in 1480 AD. It is located in Kasepuhan, Lemah Wungkuk, Cirebon. It is the first Islamic prototype of the city centre characteristics in Indonesia. The tradition of Panjang Jimat Ceremony is a birth commemoration of the prophet Muhammad SAW. The meaning of this tradition is an allegoric parade describing the process of the prophet’s birth or universally human birth and a maternal. This tradition is conducted in order to preserve the ancestral cultural values. The process of implementing the tradition of Panjang Jimat Ceremony is started from 1st to 12th of Rabi’ul Awal which coincides with the birth of the prophet Muhammad SAW. On those days, a set of activities such as preparation, checking, and implementation of the birth commemoration of Muhammad SAW are conducted. The impact of this tradition on the people of Cirebon and its vicinity is a cultural syncretism between the Islamic and pre-Islamic cultures such as Hinduism, Animism and Dynamism.


Keywords : Preserving of “Panjang Jimat” Tradition Ceremony


Copyright © 2012 Universitas Siliwangi | Tentang Situs | Peta Situs | Kredit

You're IPv4 54.234.128.252

UNSIL on